Tips & Trik

Sistem Pengapian Konvensional: Cara Kerja dan Komponennya

PUBLISHED DATE : 28 Agustus 2021

https://d2fgf7u961ce77.cloudfront.net/uploads/news/23463215_s.jpg

Sebuah kendaraan memiliki mesin yang digerakkan karena adanya pembakaran antara udara dan bahan bakar atau bensin. Supaya proses pembakaran berhasil dibutuhkan percikan api yang berasal dari busi. 

Percikan api tersebut berhasil muncul karena sistem pengapian konvensional yang digunakan sejak kendaraan bermotor dengan bensin pertama kali dibuat. Hingga saat ini sistem pengapian tersebut masih terus digunakan. 

Simak penjelasan lengkap mengenai pengapian konvensional dalam sebuah kendaraan berikut ini. 

Baca Juga : Tidak Sama, Ini Perbedaan Aki Kering dan Aki Basah

Apa Itu Sistem Pengapian Konvensional dan Fungsinya 

Secara umum ada empat jenis sistem pengapian yang digunakan pada kendaraan mobil. Pertama adalah sistem pengapian konvensional, kedua sistem pengapian CDI, ketiga sistem pengapian transistor dan terakhir sistem pengapian DLI. 

Di antara keempatnya, pengapian konvensional adalah sistem yang pertama kali dirancang oleh manusia dalam sebuah kendaraan bermotor. Pengertian dari sistem ini adalah rangkaian mekatronika sederhana. 

Baca Juga : Ini Efek Salah Pakai Oli pada Mesin Mobil

Tujuan dibuat adalah untuk menciptakan percikan api pada busi dengan interval tertentu. 

Busi akan menciptakan percikan api karena energi listrik dari tegangan yang mengalir tinggi melewati elektroda busi. 

Tegangan bisa mencapai 30.000 V DC, di mana celah 0,8 mm pada elektroda tersebut akan menciptakan lompatan elektron yang bentuknya percikan api. Ciri utamanya sendiri adalah menggunakan platina untuk menghubungkan dan memutuskan pengapian. 

Baca Juga : Ingat, Tak Semua Pelek Racing Bisa Dipasang Ban Tubeless!

Ada dua fungsi yang dimiliki sistem pengapian konvensional. Pertama adalah untuk menciptakan loncatan bunga api pada busi di waktu yang tepat. Waktunya adalah untuk menciptakan pembakaran antara udara dengan bahan bakar bensin. 

Fungsi yang kedua adalah untuk menciptakan loncatan bunga api dibutuhkan tegangan listrik yang tinggi. Tegangan tersebut akan menaikkan tegangan baterai sehingga menjadi tegangan tinggi coil melalui hubungan singkat arus primer oleh platina. 

Sistem ini berbeda dengan sistem pengapian CDI yang justru menganut prinsip pengosongan arus pada kapasitor supaya terdapat tegangan pada coil. Berbeda juga dengan sistem pengapian transistor yang tak lagi menggunakan platina. 

Seperti apa cara kerja dari pengapian konvensional dipengaruhi oleh komponen yang ada di dalamnya.

122467866_s

Komponen dalam Sistem Pengapian Konvensional

Setiap sistem pengapian memiliki komponen yang berbeda-beda tergantung bagaimana caranya bekerja. Masing-masing komponen ini memiliki fungsi dan tugas berbeda namun saling berhubungan untuk menciptakan percikan api. 

Jadi busi tidak bekerja sendiri dalam sebuah kendaraan motor atau mobil untuk bisa menciptakan percikan api. Secara umum ada tiga komponen utama yang penting yaitu Nok, Ignition Coil dan Distributor. 

Berikut ini komponen sistem pengapian konvensional  yang digunakan. 

Baterai 

Sama seperti baterai pada umumnya, baterai di sini fungsi utamanya adalah untuk menyediakan arus listrik dengan voltase rendah yaitu sekitar 12 volt. Selain untuk sistem pengapian, baterai juga memiliki fungsi kelistrikan pada bagian lainnya. 

Contohnya saja untuk suplai listrik menyalakan klakson, sistem pengisian dan komponen yang membutuhkan kelistrikan lainnya. Baterai ini lebih sering disebut dengan aki di mana fungsinya sangat penting untuk kelistrikan kendaraan. 

Ignition Coil

Komponen inilah yang berperan besar untuk menaikkan daya dari baterai yang tadinya hanya 12 volt. Daya bisa dinaikan 10 KV bahkan lebih, seperti yang dijelaskan bahwa untuk menciptakan percikan api dibutuhkan tegangan listrik yang tinggi. 

Ignition coil ini memiliki dua jenis kumparan yang masing-masing dililitkan pada bagian inti besi. Di mana kumparan yang pertama disebut kumparan primer, yang akan menerima arus dari baterai dan diputus breaker point atau platina. 

Kumparan kedua atau kumparan sekunder ini nantinya akan menciptakan induksi elektromagnetik ketika arus listrik diputus oleh platina sehingga bisa membangkitkan tegangan sampai 10 KV bahkan lebih. 

Kumparan primer biasanya menggunakan kawat tembaga yang ukurannya 0,5 hingga 1,0 mm bahkan lebih besar dan gulungannya sedikit. Sedangkan kumparan sekunder lebih kecil dan jumlah gulungannya lebih banyak. 

Distributor 

Kemudian komponen distributor ini sendiri terdiri dari banyak komponen di mana fungsi utamanya adalah untuk mendistribusikan tegangan listrik yang sudah dibangkitkan ignition coil ke setiap silinder. Berikut ini macam-macam bagian dari distributor.

  • Nok

Disebut juga dengan Cam, komponen ini akan membuka platina di sudut poros engkol dengan tepat bagi masing-masing silinder. Nok sendiri terhubung dengan poros distributor dan akan digerakkan oleh poros nok. 

  • Platina

Pada sistem pengapian konvensional fungsi platina adalah untuk memutuskan arus listrik yang mengalir ke kumparan primer dalam ignition coil. Tujuannya agar ignition coil mampu menciptakan tegangan listrik yang lebih tinggi dari baterai. 

  • Kondensor 

Sesuai dengan namanya, komponen distributor ini memiliki fungsi utama untuk menyerap loncatan bunga api pada platina. Penyerapan berlangsung ketika terjadi pembukaan yang bertujuan untuk menaikkan tegangan pada coil sekunder. 

  • Centrifugal Governor Advancer

Fungsi dari komponen ini adalah untuk memajukan pada saat pengapian yang disesuaikan dengan putaran dari mesin. 

  • Vakum Advancer

Komponen ini dipasang pada bagian distributor dan dihubungkan ke backing plate atau dudukan platina. Bentuknya sendiri seperti piringan yang memiliki dua selang dan dihubungkan ke karburator dan intake manifold. 

Pada saat komponen ini menyala maka akan menggeser backing plate dan menciptakan buka tutup platina. Fungsinya adalah memajukan saat pengapian sesuai dengan beban mesin. 

  • Rotor

Komponen sistem pengapian konvensional ini memiliki fungsi untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi yang sudah dihasilkan ignition coil ke busi. 

  • Distributor Cap

Fungsi distributor ini adalah untuk membagikan arus listrik dari rotor ke kabel tegangan listrik sehingga setiap busi bisa menghasilkan percikan api. 

  • Busi

Busi merupakan bagian dari distributor yang fungsinya adalah menciptakan percikan bunga api dari elektroda yang sudah didapatkan melalui kabel tegangan tinggi. 

  • Kabel Tegangan Tinggi 

Komponen dari sistem pengapian konvensional ini memiliki fungsi untuk mengalirkan arus dengan tegangan sangat tinggi ke busi dari ignition coil. 

Cara Kerja Sistem Pengapian Konvensional 

Setelah mengenali apa saja komponen dari sistem pengapian ini Anda pasti sudah bisa memiliki garis besar bagaimana cara kerjanya. Ada dua cara kerja sistem pengapian konvensional yang bisa diperhatikan sebagai berikut:

  • Cara Kerja saat Kontak On

Sistem pengapian ini akan bekerja ketika kontak dalam posisi ON. Maka Ignition Relay dan Main Relay akan aktif dan muncul aliran arus listrik dari baterai ke keduanya. 

Arus tersebut akan masuk ke kumparan primer dan sekunder pada ignition coil. Arus listrik hanya dialirkan saja sehingga sistem pengapian belum berjalan dan tak ada perubahan pada tegangannya. 

  • Cara Kerja saat Posisi Start

Barulah pada saat flywheel diputar sistem starter, maka sistem pengapian akan mengalami pemutusan arus. Rangkaian pengapian ini terhubung dengan crankshaft mesin, jadi saat mesin berputar maka putaran akan menyesuaikan RPM mesin. 

Nok pada distributor jumlahnya sama dengan silinder mesin, di mana pada saat berputar maka akan menyentuh kaki platina dan terjadilah kontak point yang menyebabkan arus primer terputus. 

Pada saat arus di kumparan primer terputus, maka medan magnet yang tadinya terbentuk juga akan padam. Namun medan magnet tersebut akan bergerak ke kumparan sekunder di mana arus tegangan listrik akan meningkat. 

Pergerakan dari pemutusan arus hingga meningkat terjadi dalam waktu yang singkat. Supaya prosesnya berjalan maka dibutuhkan platina yang bisa memutuskan dan menghubungkan arus pada kumparan primer dan sekunder. 

Selanjutnya tegangan listrik yang tinggi tinggal dialirkan ke busi untuk menciptakan percikan api sehingga terjadilah pembakaran dan mesin akan menyala. 

Inilah sistem pengapian konvensional di mana ada beberapa rangkaian penting yang bekerja dengan sangat singkat pada kendaraan Anda. 




Berita Lainnya