Tips & Trik

Catalytic Converter Mobil: Pengertian dan Fungsinya

PUBLISHED DATE : 24 Agustus 2021

https://d2fgf7u961ce77.cloudfront.net/uploads/news/16__IGNIS_(1).jpg

Masalah polusi udara yang disebabkan oleh kendaraan terus menjadi perhatian. Demi menurunkan polusi dari kendaraan, maka diciptakanlah komponen catalytic converter. Komponen ini selalu digunakan oleh mobil keluaran terbaru. 

Anda mungkin sudah tidak asing mendengarnya, tapi tahukah Anda bagaimana cara kerjanya secara lebih jauh? Lalu bagaimana jika komponen ini mengalami kerusakan, apa gejalanya? Simak penjelasannya lebih lanjut berikut ini. 

Apa Itu Catalytic Converter dan Fungsinya 

Baca Juga : Jenis-Jenis Pintu Mobil Yang Ada Saat Ini

Emisi gas buang yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar kendaraan untuk menciptakan tenaga memiliki banyak kandungan zat yang sifatnya polutan. Seiring bertambah tingginya jumlah kendaraan, polusi udara pun meningkat. 

Catalytic converter adalah alat yang diciptakan untuk mengurangi emisi gas buang karbon dari kendaraan. Khususnya untuk kendaraan pribadi seperti mobil. Ada berbagai jenis emisi gas buang yang merupakan polutan. 

Seperti hidrokarbon, karbon monoksida, nitrogen oksida dan sejenisnya. Alat catalytic converter ini sendiri memiliki bentuk mirip dengan sarang lebah. Sebelum akhirnya emisi gas buang dikeluarkan melalui knalpot akan melewati komponen ini. 

Baca Juga : Mesin Kotor? Ini Cara Membersihkan Ruang Mesin Mobil

Posisi alatnya sendiri tepat berada di dalam knalpot sehingga mampu menyaring polutan sebelum gas dikeluarkan ke udara. Alat ini baru diperkenalkan pada mobil di Indonesia pada tahun 2007. 

Pada tahun tersebut standar Euro 2 memberlakukan soal gas buang, di mana harus memenuhi standar yang ditetapkan. Semua kendaraan dengan mesin diesel serta bensin wajib menggunakan komponen ini. 

Fungsi catalytic converter mobil utamanya sesuai dengan alasan diciptakan yaitu untuk menyaring semua polutan yang tadi telah disebutkan. Komponen ini dibuat dengan bahan platinum atau platina serta palladium. Tak heran harganya sendiri sangat mahal. 

Baca Juga : Yuk Cari Tahu Ini Perbedaan 2 Jenis Air Accu Mobil

Di Indonesia banyak bisnis pengumpulan CC untuk bisa didaur ulang semakin berkembang. Selain itu setelah alat ini mulai digunakan juga menjadi sasaran pencuri. Beberapa mobil SUV yang tinggi menjadi sasaran utama pencurian CC. 

Untungnya mobil-mobil yang beredar di Indonesia memasang CC pada bagian sulit yaitu setelah area pembuangan gas, dekat dengan blok mesin. CC juga disatukan dengan rumah sensor oksigen, letaknya membuat sulit untuk mencurinya. 

Cara Kerja Catalytic Converter Mobil 

Bagaimana catalytic converter mobil bisa bekerja untuk menyaring polutan? Cara kerjanya sendiri adalah saat gas buang menyentuh katalisator yang terbuat dari logam, maka akan terjadi reaksi kimia. 

Reaksi tersebut akan menghilangkan kandungan atau senyawa berbahaya dalam gas buang. Oleh karena itulah gas buang yang keluar dari knalpot menjadi lebih ramah lingkungan. Sedangkan katalisator dari bahan logam juga tidak akan berubah sifatnya. 

Hanya saja, logam yang digunakan dalam catalytic converter memiliki usia pakai. Logam lama kelamaan akan mengalami penurunan kemampuan. Misalnya ketika kendaraan sudah digunakan sampai 100.000 km maka kemampuan menyaringnya menurun 35%. 

Namun itu belum termasuk dengan ketika mobil berhenti atau sering mengalami macet. Maka logam pada CC akan berkurang kemampuannya sampai 70%. Oleh karena itulah, jika ingin logam pada katalisator awet, sebaiknya gunakan bahan bakar yang tepat.

Katalisator sendiri akan bekerja dengan maksimal apabila terdapat suhu di atas 400 derajat Celcius. Ketika mesin masih dingin atau suhunya masih di bawah 400 derajat Celcius, maka katasliator tidak akan bekerja maksimal. 

16._IGNIS__2_

Tiga Jenis Sistem Catalytic Converter Mobil 

Sistem yang berfungsi besar dalam menyaring polutan ini juga terdiri dari tiga jenis yang berbeda. Masing-masing jenis dan penjelasannya adalah sebagai berikut. 

  • Oxidation Catalyst

Pada tipe yang pertama ini atau disebut juga dengan CCO. Di mana bekerja dengan mereaksikan Karbon Monoksida (CO) dan Hidrokarbon (HC) dengan oksigen. Hasilnya adalah gas buang berupa CO2 dan H20 yang tidak memiliki potensi polusi besar. 

Oksidasi akan terjadi dengan efisien ketika terdapat kelebihan oksigen pada bagian exhaust manifold. Harus selalu ada udara murni yang masuk ke converter. Hanya saja tipe ini tidak mengurangi Nitrogen Oksida (NOx) dalam kapasitas besar.   

  • Three Way Catalyst

Tipe yang kedua adalah yang paling ideal karena semua polutan dari CO, HC dan juga NOx dapat diubah menjadi zat non polusi. Hanya saja supaya alat ini bisa bekerja dengan maksimal, harus ada syarat yang perlu dipenuhi. 

Syaratnya adalah udara serta bensin harus memiliki nilai yang sedekat mungkin. Apabila berhasil, maka akan membuat purification rate yang cukup tinggi. 

  • Three Way Catalyst dan Oxidation Catalyst

Tipe catalytic converter yang ketiga ini adalah kombinasi dari sistem pertama dan kedua. Sistem ini mampu menghasilkan lebih banyak polusi udara karena mengandalkan sistem emission control dan sistem oxidation catalyst. 

Gejala Kerusakan pada Catalytic Converter Mobil

Demi mengurangi polusi, komponen catalytic ini harus dijaga performanya. Mulailah dengan menggunakan jenis bahan bakar oktan tinggi. Biasanya adalah di atas 90 sehingga kandungan timah juga semakin sedikit. 

Cara ini cukup efektif dalam meminimalisir kerusakan logam katalisator. Namun karena memiliki usia pakai sekitar 10 tahun, Anda harus mengetahui kapan komponen ini mengalami kerusakan. Pada saat rusak ada beberapa gejala yang bisa dideteksi. 

Berikut ini beberapa gejala kerusakan pada catalytic converter yang bisa Anda amati. 

  • Tenaga Mesin Mobil Berkurang

Gejala pertama yang sering dirasakan adalah mesin mobil tidak bertenaga. Alasannya karena sirkulasi gas buang yang seharusnya terjadi pada katalisator tidak bekerja. Akhirnya mesin akan menimbulkan getaran berlebih. 

Apabila Anda membiarkan gejala ini terus menerus atau justru tidak merasakannya, maka akan membuat mesin overheat dan mati. 

  • Daya Akselerasi Mobil Menghilang

Apakah Anda merasa laju mobil semakin menurun? Khususnya pada saat melewati jalanan menanjak. Ketika Anda merasakan hal ini, maka efek lain yang muncul adalah bahan bakar semakin boros. 

Karena tidak ada penyaringan emisi gas buang, maka bahan bakar yang digunakan akan berlebihan. Masalahnya bisa berada pada catalytic converter yang mengalami penyumbatan. 

Cara mengeceknya pun mudah, nyalakan mesin mobil dan biarkan transmisi di posisi netral. Kemudian tekan pedal gas hingga ke angka sampai 2000. Kemudian cek pada ujung knalpot. Jika terasa sangat panas, maka terjadi penyumbatan. 

  • Muncul Bau Busuk dan Asap Knalpot Pekat

Pada saat Anda mengecek bagian knalpot, bukan hanya gas buang terasa panas. Anda juga akan mencium bau busuk yang keluar. Asap kendaraan yang seharusnya berwarna putih juga akan berubah menjadi lebih hitam. 

Artinya tidak ada penyaringan yang baik terhadap gas buang dari ruang pembakaran mesin. Jika sampai bau sudah muncul, dapat dipastikan masalahnya adalah pada catalytic. 

Boros bahan bakar, muncul bau pada knalpot, dan asap pekat. Dilihat dari tiga hal ini saja sudah membuat Anda harus segera membawa mobil ke bengkel Suzuki terdekat. Tujuannya supaya teknisi bisa langsung mengecek kerusakan. 

Sehingga Anda tidak mengalami kerugian untuk mengganti catalytic converter dengan yang baru. Mengingat harganya yang sangat mahal tentu akan lebih baik melakukan perawatan daripada membeli baru. 



Berita Lainnya